Pisau Luka (The Chaos Walking Trilogy#1: The Knife of Never Letting Go)
3.0 (1 rating)

Pisau Luka (The Chaos Walking Trilogy#1: The Knife of Never Letting Go)

Todd Hewitt satu-satunya bocah lelaki di Prentisstown. Kota itu hanya berisi lelaki dewasa, tidak ada perempuan, tidak ada anak-anak. Sejak terinfeksi kuman Kebisingan, mereka dapat mendengar pikiran satu sama lain. Sebulan lagi Todd menjadi lelaki dewasa, tapi di tengah Kebisingan, dia tahu kotanya menyembunyikan sesuatu---sesuatu yang begitu mengerikan sehingga Todd terpaksa melarikan diri hanya bersama Manchee, anjing yang pikiran setia dan sederhananya juga dapat didengar Todd. Diburu lelaki-lelaki jahat dari kota, keduanya bertemu makhluk aneh yang begitu hening: seorang anak perempuan. Siapa dia? Mengapa dia tidak terbunuh oleh kuman seperti semua perempuan di Dunia Baru? Dikisahkan melalui narasi Todd yang polos, para pembaca disuguhi petualangan menegangkan ketika seorang bocah lelaki yang beranjak dewasa harus melupakan semua yang dia ketahui agar dapat mengungkapkan rahasia besar yang selama ini disembunyikan darinya.

Published: March 26, 2018

Pages: 544

ISBN: 9786020383118

Get This Book

Available in: digital, MP3 CD, Ebook, Paperback

See all editions (9)

Reader Reviews

3.0

1 rating

Dhawy F.

Aug 15, 2026
Wow! Buku science fiction yang lumayan padat, tapi eksekusinya agak nggak banget menurutku.
Ceritanya tentang anak bernama Todd Hewitt yang otewe jadi laki-laki dewasa. Dia hidup di Prentisstown, sama dua orang pengasuhnya yang juga laki-laki. Di Prentisstown, semua penghuninya laki-laki yang bisa dengar pikiran satu sama lain akibat kuman kebisingan.
Todd ini nggak sekolah, karena pelajaran baca tulis di Prentisstown bisa jadi masalah. Semua buku di sana sudah dibakar walikota. Tapi, Suatu hari, para pengasuhnya ini malah nyuruh Todd kabur. Bekalnya? Buku.
Anak nggak bisa baca tapi dikasihnya buku. Disuruh pergi jauh sendirian, pula. Terus gimana dia bisa kabur dengan strategi yang tepat? Gimana dia bisa melawan semua rintangannya?

Well, aku bilang buku ini padat karena issue yang dibahas buanyak layer-nya. Ada penjajahan, pembodohan, manipulasi, keserakahan oleh pemimpin setempat, sampai ketidaksetaraan jender.
Aku suka banget penggambaran liku-liku ataupun rintangan kuat buat si Todd, yang nggak tampak seperti tahu bulat digoreng dadakan. Aku sebagai pembaca beneran merasa dibuat kehabisan napas. Dan satu lagi, jangan lupakan penggunaan pisau yang nggak jadi-jadi, ya. Kalo kalian baca bukunya, pasti bisa merasa tergemes-gemes kesel sama Todd gara-gara itu.

Kalo bicara kekurangan, kekurangan pertama ada di gaya penulisannya. Repetisi bertaburan di sana-sini. Awalnya pening kepalaku bacanya, meskipun emang sih, lama-lama terbiasa juga. Tapi perasaan, anak polos nggak mesti diidentikkan sama pengulangan kata yang segitu buanyak, deh.
Selanjutnya, mari kita ngomongin alur. Alurnya lambat sekali. Terkesan buang-buang page. Dari kacamata pembaca awam aja tuh kelihatan, beberapa bagian bisa banget dipersingkat.
Latar belakangnya si Todd, tokoh utama, diceritainnya overly detail sampek elek dalam satu bagian. Padahal, andai kata lebih disebar ke beberapa bagian cerita, pasti jadinya bagus banget.
Selanjutnya, pemilihan sudut pandang. Kurang kaya perspektifnya kalo hanya diambil dari sudut pandang Todd, anak kemarin sore yang masih polos + kurang pengetahuan. Seharusnya, ada juga sudut pandang dari Ben, salah satu pengasuh Todd, yang sedikit tapi ngena. Yang nggak banyak dimunculkan, tapi bisa memuaskan pembaca dengan penjelasan tipis-tipis versi orang dewasa soal chaos-nya Prentisstown buat masa depan Todd.
Alternatif lainnya, munculkan sudut pandang cewek pintar luar angkasa yang ikut nemenin Todd berpetualang. Jadi kita nggak hanya mengenal cerita ini dari keruwetan si Todd aja gitu, lho.
Dan yang terakhir, ada wisdom di buku ini yang bilang selalu ada harapan. Selalu ada harapan di ujung jalan katanya. Aku tuh terus terang mikir, apa ya gunanya wisdom ini dimuncul-munculin segala?
Soalnya gini, sepanjang cerita, tokoh Todd dibuat apes terus. Nggak satupun harapannya bisa jadi nyata. Kesannya, wisdom selalu ada harapan itu cuma aksesori aja supaya ceritanya tampak meaningful. Implementasinya nol besar.

Mungkin itu aja yang bisa aku ulas. Setelah namatin buku pertama dalam seri ini, juga mengamati semua kekurangan dan kelebihannya, jujur aku nggak terlalu tertarik lanjutin baca buku-buku yang lain dalam seri Chaos Walking ini. Aku move on aja, deh.